Tuesday, October 9, 2012

Pentingnya pengetahuan tentang Virus polio



 Virus polio dapat melumpuhkan dan bahkan juga membunuh manusia. Virus ini menular melalui air dan kotoran manusia. Sifatnya sangat menular dan selalu menyerang anak balita. Dua puluh tahun silam, polio melumpuhkan 1.000 anak tiap harinya di seluruh penjuru dunia. Tetapi pada 1988 muncul Gerakan Pemberantasan Polio Global. Lalu pada 2004, hanya 1.266 kasus polio yang dilaporkan muncul di seluruh dunia. Umumnya kasus tersebut hanya terjadi di enam Negara. Kurang dari setahun ini, anggapan dunia bebas polio sudah berakhir.
Pada awal Maret tahun 2005, Indonesia muncul kasus polio pertama selama satu dasa warsa. Artinya, reputasi sebagai negeri bebas polio yang disandang selama 10 tahun pun hilang ketika seorang anak berusia 20 bulan di Jawa Barat terjangkit penyakit ini. (Lebih lanjut baca  "Polio: cerita dari Jawa Barat) 
Menurut analisa, virus tersebut dibawa dari sebelah utara Nigeria. Sejak itu polio menyebar ke beberapa daerah di Indonesia dan menyerang anak-anak yang tidak diimunisasi. Polio bisa mengakibatkan kelumpuhan dan kematian. Virusnya cenderung menyebar dan menular dengan cepat apalagi di tempat-tempat yang kebersihannya buruk.
Indonesia sekarang mewakili satu per lima dari seluruh penderita polio secara global tahun ini. Kalau tidak dihentikan segera, virus ini akan segera tersebar ke seluruh pelosok negeri dan bahkan ke Negara-negara tetangga terutama daerah yang angka cakupan imunisasinya masih rendah.
Indonesia merupakan Negara ke-16 yang dijangkiti kembali virus tersebut. Banyak pihak khawatir tingginya kasus polio di Indonesia akan menjadikan Indonesia menjadi pengekspor virus ke Negara-negara lain, khususnya di Asia Timur. Wabah polio yang baru saja terjadi di Indonesia dapat dipandang sebagai sebuah krisis kesehatan dengan implikasi global.
Dari uraian di atas maka perlu adanya kajian tentang polio yaitu apakah pengertian polio, apakah gejala klinis pada polio, apa sajakah jenis – jenis polio, bagainana mekanisme penyebaran polio, apa langkah untuk pencegahan poliodan bagaimana usaha pemberantasan polio.

Thursday, October 4, 2012

IMUNISASI



   
  I.    Pengertian
Imunisasi adalah suatu cara untuk menimbulkan/meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila kelak ia terpapar dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau sakit ringan. (Depkes RI, 2005).
Imunisasi adalah suatu tindakan untuk memberikan kekebalan dengan caramemasukkan vaksin ke dalam tubuh manusia, untuk mencegah penyakit.
(Depkes-Kessos RI, 2000).
  II.     Perkembangan Imunisasi di Indonesia
Kegiatan imunisasi di Indonesia di mulai di Pulau Jawa dengan vaksin cacar pada tahun 1956. Pada tahun 1972, Indonesia telah berhasil membasmi penyakit cacar. Pada tahun 1974, Indonesia resmi dinyatakan bebas cacar oleh WHO, yang selanjutnya dikembangkan vaksinasi lainnya. Pada tahun 1972 juga dilakukan studi pencegahan terhadap Tetanus Neonatorum dengan memberikan suntikan Tetanus Toxoid (TT) pada wanita dewasa di Jawa Tengah dan Jawa Timur, sehingga padatahun 1975 vaksinasi TT sudah dapat dilaksanakan di seluruh Indonesia. (Depkes RI,2005).
III.  Program Imunisasi TT Ibu Hamil
Program Imunisasi bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan, kecacatandan kematian dari penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I).Untuk mencapai hal tersebut, maka program imunisasi harus dapat mencapai tingkat cakupan yang tinggi dan merata di semua wilayah dengan kualitas pelayanan yang memadai. (Dinkes Jambi, 2003).
Pelaksanaan kegiatan imunisasi TT ibu hamil terdiri dari kegiatan imunisasi rutin dan kegiatan tambahan. Kegiatan imunisasi rutin adalah kegiatan imunisasiyang secara rutin dan terus-menerus harus dilaksanakan pada periode waktu yang telah ditetapkan, yang pelaksanaannya dilakukan di dalam gedung (komponen statis) seperti puskesmas, puskesmas pembantu, rumah sakit, rumah bersalin dan di luar gedung seperti posyandu atau melalui kunjungan rumah. Kegiatan imunisasi tambahan adalah kegiatan imunisasi yang dilakukan atas dasar ditemukannya masalah dari hasil pemantauan atau evaluasi. (Depkes RI, 2005).
       I.   IV. Jadwal Imunisasi TT ibu hamil
a.       Bila ibu hamil sewaktu caten (calon penganten) sudah mendapat TT. sebanyak 2 kali, maka kehamilan pertama cukup mendapat TT 1 kali, dicatat sebagai TT ulang dan pada kehamilan berikutnya cukup mendapat TT 1 kali saja yang dicatat sebagai TT ulang juga.
b.      Bila ibu hamil sewaktu caten (calon penganten) atau hamil sebelumnya baru mendapat TT 1 kali, maka perlu diberi TT 2 kali selama kehamilanini dan kehamilan berikutnya cukup diberikan TT 1 kali sebagai TT ulang.
c.       Bila ibu hamil sudah pernah mendapat TT 2 kali pada kehamilan sebelumnya, cukup mendapat TT 1 kali dan dicatat sebagai TT ulang.
V.     Cara pemberian dan dosis
a.     Sebelum digunakan, vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar suspensi
menjadi homogen.
b.    Untuk mencegah tetanus/tetanus neonatal terdiri dari 2 dosis primer yang
disuntikkan secara intramuskular atau subkutan dalam, dengan dosis pemberian 0,5 ml dengan interval 4 minggu. Dilanjutkan dengan dosis ketiga setelah 6 bulan berikutnya. Untuk mempertahankan kekebalan terhadap tetanus pada wanita usia subur, maka dianjurkan diberikan 5 dosis. Dosis ke empat dan ke lima diberikan dengan interval minimal 1 tahun setelah pemberian dosis ke tiga dan ke empat. Imunisasi TT dapat diberikan secara aman selama masa kehamilan bahkan pada periode trimester pertama.
c.     Di unit pelayanan statis, vaksin TT yang telah dibuka hanya boleh
digunakan selama 4 minggu dengan ketentuan :
• Vaksin belum kadaluarsa
• Vaksin disimpan dalam suhu +2º - +8ºC
• Tidak pernah terendam air.
• Sterilitasnya terjaga
• VVM (Vaccine Vial Monitor) masih dalam kondisi A atau B.
d.    Di posyandu, vaksin yang sudah terbuka tidak boleh digunakan lagi untuk
hari berikutnya.
VI.     Efek Samping
Efek samping jarang terjadi dan bersifat ringan, gejalanya seperti lemas dan kemerahan pada lokasi suntikan yang bersifat sementara dan kadang-kadang gejala demam. Namun kondisi seperti ini sangat jarang terjadi. (Depkes RI, 2005).

Wednesday, October 3, 2012

Fungsi Sistem Informasi Manajemen BPS



Supaya informasi yang dihasilkan oleh sistem informasi dapat berguna bagi manajamen, maka analis sistem harus mengetahui kebutuhan-kebutuhan informasi yang dibutuhkannya, yaitu dengan mengetahui kegiatan-kegiatan untuk masing-masing tingkat (level) manajemen dan tipe keputusan yang diambilnya. Berdasarkan pada pengertian-pengertian di atas, maka terlihat bahwa tujuan dibentuknya Sistem Informasi Manajemen atau SIM  bidan praktek swasta adalah supaya bidan praktek swasta memiliki informasi yang bermanfaat dalam pembuatan keputusan manajemen, baik yang meyangkut keputusan-keputusan rutin maupun keputusan-keputusan yang strategis.
Sistem informasi manajemen Bidan praktek swasta juga dapat berfungsi untuk dapat membantu bidan dalam menangani semua kegiatannya termasuk dapat mempercepat semua penginputan data, transaksi dan pembuatan berbagai macam laporan yang dilakukan termasuk pemasukan setiap bulannya. Sehingga BPS dapat meningkatkan kinerja, efisiensi waktu dan efektifitas dalam melakukan pekerjaannya. KarenaSemua sistem yang ada didalamnya tidak  dikerjakan dengan cara pencatatan manual, baik dari pengumpulan data, pengolahan data, penyajian informasi, analisa dan penyimpulan. Namun menerapkan sistem informasi berbasis komputer, untuk meningkatkan pelayanan secara profesional. Sehingga data-data yang didapatkan tidak hilang dan dapat lebih mudah terlacak. Oleh sebab itu Rumah Bersalin ataupun BPS (Bidan Praktek Swasta) menerapkan sistem informasi berbasis komputer, untuk meningkatkan pelayanan secara profesional.

Sistem Informasi Manajemen BPS



Perkembangan dunia usaha dewasa ini sangat pesat sehingga persainganpun demikian ketatnya. Disamping itu perkembangan ilmu dan teknologi terutama dibidang komputer dan bidang komunikasi sangat berpengaruh terhadap kemajuan perusahaan atau organisasi (Kurniawan,1998: 3). Dengan demikian setiap perusahaan atau organisasi dituntut untuk mampu bertahan hidup dalam menghadapi persaingan pada era globalisasi perdagangan internasional tersebut.
Banyaknya data maupun informasi yang harus diolah tidak memungkinkan dilakukan dengan menggunakan cara-cara manual. Maka diperlukan suatu alat Bantu yang memiliki tingkat kecepatan perhitungan dan penyampaian data yang tinggi. Alat Bantu tersebut merupakan perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software).
Dalam penanganan sistem informasi ini, salah satu hal yang harus diperhatikan adalah menilai biaya yang dikeluarkan. Jika hal tersebut dikerjakan dengan tangan (secara manual), tentu akan memakan waktu, biaya dan tenaga. Untuk menghindari hal tersebut, akan lebih baik jika digunakan sistem komputerisasi.
Di jaman modern saat ini, kesehatan ibu dan anak sangat penting guna menurunkan angka kematian ibu dan anak. Dalam usaha menjaga kesehatan ibu dan anak, ibu harus menjalankan beberapa proses perawatan baik itu sesudah maupun saat kehamilan. Demi meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak maka setiap wanita/ibu yang hamil wajib memeriksakan dirinya ke rumah sakit, puskesmas, klinik bersalin,  rumah bersalin bahkan ke BPS (Bidan Praktek Swasta). Biasanya warga di daerah pedesaan lebih sering memanfaatkan jasa BPS (Bidan Praktek Swasta) selain dikarenakan karena faktor ekonomi maupun karena warga desa bisa merasakan seperti berada di rumah sendiri, karena sebagian besar BPS sangat berbeda bentuknya dibandingkan dengan puskesmas maupun rumah sakit.
Bidan Praktek Swasta (BPS) adalah salah satu bentuk usaha bidan dalam mendirikan praktek pribadi dirumah. BPS bisa di katakan berkembang karena bisa melayani banyak pasien setiap bulannya, baik itu pasien yang konsultasi masalah kehamilan, memeriksakan kandungan, calon KB, melahirkan,  atau imunisasi. Hal itu disebabkan karena kepercayaan pasien terhadap BPS (Bidan Praktek Swasta) ini. Dampak dari banyaknya jumlah pasien tersebut, dalam melakukan pencatatan data pasien menimbulkan kesulitan dalam pencatatan, karena dalam melakukan pencatatan masih dengan cara yang manual dan juga mengakibatkan bidan harus bertanya ulang terhadap histori pasien waktu melakukan kunjungan dulu dan mengakibatkan pasien yang diperiksa menjadi lama dan antrian juga semakin panjang. Selain itu bidan selalu kesulitan dalam mengetahui keuntungan yang didapatkan dalam sebulan karena pembuatan laporannya masih manual dan membutuhkan proses yang lama.
Maka solusi yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah tersebut adalah perlu dibuatkannya sistem informasi manajemen Bidan Praktek Swasta (BPS). Sehingga dari penjelasan diatas akan dijelaskan secara lengkap mengenai “Sistem Informasi Manajemen Bidan Praktek Swasta”.